Follow:
mpasi, Staycation Tips, Travel tips

Tips Berpergian dengan Balita Tanpa Drama

1516796580114

“Loh ternyata ada bayi toh disini… kok ga kedengeran suaranya” Sapa seorang ibu yang duduk di seberang tempat duduk saya dalam bus Rosalia Indah tujuan Jakarta-Salatiga ketika pagi menjelang. Well, I took that as compliment. Soalnya sering banget dengar cerita complain penumpang ketika ada bayi yang sepanjang perjalanan perjalanan rewel. Dan di masyarakat adalah hal wajar ketika mereka rewel? Hmmm benarkah? Saya pernah sekali juga kebarengan sesama ibu yang baby-nya menangis sepanjang penerbangan, dan buat orang yang punya anxiety memang hal itu menyebalkan, jadi beberpa orang bukannya menenangkan justru pasang muka judes sama si ibu. Hey, saya yakin nggak ada ibu yang berharap anaknya rewel kok walaupun sebenarnya hal tersebut bisa diminimalisir sejauh saya belajar: no tricks or candy.

Fail to prepare is preparing to fail.

Pertama kali Aksa bepergian jarak jauh adalah perjalanan udara Semarang-Jakarta ketika umurnya 2 bulan lebih 25 hari. Persiapan yang saya lakukan adalah check up dan meminta surat pengantar dari dokter bahwa Aksa dalam kondisi fit untuk melakukan perjalanan. Saran dari dokter adalah tetap menyusui ketika take off dan landing – serta membeli earmuff yang mana saya nggak beli, but he’s still doing okay)

Apakah PRnya sudah selesai sampai disitu? Nope, justru yang terpenting belum dilakukan yaitu menyiapkan HATI IBU. Karena apa? ibu harus yakin bahwa anaknya nanti akan-baik-baik saja, yakin bahwa ketika harus rewel seperti misalnya popoknya basah itu ibu akan dengan tenang memenuhi kebutuhannya, dan si anak akan percaya that’s everyting is gonna be okay.

Dan perjalanan pertama Aksa akhirnya lancar, dia tidur nyenyak bahkan ketika sudah hampir landing, yang mana terpaksa dibangunkan untuk menyusu agar telinganya ga sakit. Salah satu keuntugan ASI Eksklusif untuk orang tua yang sering bepergian adalah tidak terlalu banyak bawaan dan tentu saja nggak bingung nyari air panas. Makanya ketika harus pulang kampung dengan bus pada usianya 5 bulan maupun road trip Salatiga-Jakarta dengan mobil saya pede aja, karena dia tidur sepanjaang 12 jam perjalanan dan hanya bangun untuk menyusu dan ganti popok.

 

Share stories and responsibilities

Gagal memenuhi kebutuhan mendasar dan mengatisipasi adanya hal yang tidak dia duga biasanya berimbas kepada tantrum ketika usianya sudah lebih besar. Salah satu cara meminimalisir tantrum ini saya selalu ‘sounding’ ke anak akan apa yang bakal kami kerjakan. Sebelum pergi saya sudah cerita bahwa kita akan melakukan perjalanan, moda yang digunakan, berapa lama dan tujuannya. Biasanya dia akan excited ketika hari itu tiba dan alhamdulillahnya selalu bisa menikmati perjalanan, meskipun misalnya harus dibangukan subuh karena flight pagi.

Nah dari kecil Aksa saya biasakan untuk membawa tasnya sendiri, walau sebenernya isinya nggak berarti seperti tissue basah maupun topi dia. Sering para orang tua males rempong atau kasihan padahal hal posistif dari kebiasaan ini adalah melatih tanggung jawab terharap barnag miliknya dan dia merasa ‘peran’ dia untuk menyukseskan perjalanan saat penting. Hingga saat ini belum genap 3 tahun dia sudah bisa mengenali barang-barang miliknya yang dibawa ketika akan traveling dan ikut menyiapkannya sebelum pergi.

Know Your Child

Tiap anak itu unik dan memiliki caranya sendiri untuk sooth themselves. Jadi adalah tugas ibu untuk menentukan apakah anak ini lebih baik tidur sebelum terbang atau justru dibuat lelah sebelum perjalanan. Apakah harus membawa selimut kesayangan, atau harus dinyanyikan dulu. Untuk Aksa, saya selalu memilihkan jam tidur siang dia ketika masih kecil dulu untuk jam terbang/tiket keretanya, jadi setelah kenyang, ganti popok, dan asik melihat-lihat selama perjalanan dia akan tidur aja. Hehe jadi ibunya bisa berselancar di dunia maya. 😀

Semakin besar semakin mudah mengajak dia pergi, ketika sudah semakin sedikit tidurnya ketika perjalanan sibukkan dia dengan camilan dan mainan. Dan ketika sudah paham saya berikan aktivitas yang menghabiskan waktu seperti DIY busy book, menempel, mewarnai.

Dan adalah tugas ibu juga untuk tahu apakah anak itu gampang kegerahan, atau kedinginan jadi bisa memakaikan outfit yang sesuai dengan kebutuhan. Plus, selalu sediakan baju ekstra ketika bepergian dengan mereka.

 

When we have to staycation with baby toddler

Ketika harus menginap dengan bayi, seringnya orang tua mulai bingung ketika anak sudah masuk masa MPASI( makanan rumahan pendamping ASI).Kalau kamu tipe orang tua yang suka bikin sesuatu from scratch, nggak masalah bawa alat tempur MPASI pisau parutan slow cooker dan harus homemade; saran saya cari hotel yang deket pasar supaya bisa dapat barang segar. Kalau kamu udah menyiapkan bekal tiap hari bisa cari hotel yang kamarnya ada kulkasnya, atau jika nggak ada kamu bisa juga nitip di pantry hotel. Tapi kalau saya tipe yang nggak harus makan nasi, maka kadang saya beli ubi, pisang, dan kadang beli babyfood yang pasti ada di setiap kota (riset dulu sebelum pergi) toh kebutuhan utama sampai 1 tahun masih ASI, dan ketika satu tahun keatas sudah bisa ikut makan sesuai apa yang kita makan.

Terkadang ada bayi yang nggak biasa tidur di tempat baru, ini yang bisa mengenali orang tuanya. Kalau anak saya kebetulan bisa tidur dimana aja asalkan nggak gerah. Sebelum memesan tempat menginap tapi terlebih dulu pastikan apakah hotelnya mengizinkan anak-anak, atau menyediakan babycot, kalau di Indonesia sih biasanya nggak ada ya. Jadi bayi harus tidur dengan orang tuanya.

Jadi begitu persiapan saya selama ini yang sering bepergian dengan balita. Smeoga bermanfaat ya 🙂

Facebook Comments
Share on
Previous Post Next Post

You may also like

2 Comments

  • Reply Haryadi Yansyah | Omnduut

    Aku banyak dapet ilmu dari tulisan ini. TFS mbak 🙂 Suka banget liat foto dan videonya Aksa.

    January 25, 2018 at 9:10 am
    • Reply StaycationIndonesia.id

      Thanks Mas Yan sudah mampir. waduh baubaunya persiapan nih mau punya junior .Lah 😀

      January 25, 2018 at 9:22 am

    Leave a Reply