Follow:
Travel tips

Salatiga: Lebih Dari Sekadar Tulisan di Gerbang Tol

2

Hapus-tulis-hapus tulis, begitulah proses menuliskan judul tulisan ini. Iya, begitu sulitnya menentukan kata untuk mewakili kota dimana saya dilahirkan dan dibesarkan. Dengan segala keunikannya, keindahannya, kemajemukannya yang begitu  spesial. Tempat dimana saya ingin selalu pulang, pulang dan pulang entah keberapa kali. Meskipun saya telah melihat kecanggihan, ketertiban, kemajuan di negara lain justru membuat saya semakin mencintai tanah kelahiran saya itu.

Mungkin saat ini kota mungilku ini sudah tak asing lagi bagi netizen, setelah beberapa waktu lalu viral karena gerbang tol Semarang-Solo yang memukau sampai disebut terindah di Indonesia. Padahal dulu beberapa tahun kebelakang setiap saya bilang asal saya dari Salatiga, selalu lebih banyak yang mengernyitkan dahi, tidak tahu, atau melontarkanguyonan garing “hah Salahtiga? Bener 7 dong”

Thanks to social media orang-orang begitu takjub melihat pemandangan gunung merbabu yang sebenarnya sudah menjadi makanan kami sehari-hari~namun juga tak pernah bosan kami dibuatnya. But she is not just a pretty face,  warganya daya tariknya tentu saja bukan hanya alam yang terlihat dari gerbang tolnya. Apalagi  bagi saya, it’s the place where I first inhaling the air and hopefully the place where I exhale at last. Dia menawarkan sesuatu yang tidak dimiliki di daerah lain sejauh saya merasakan hidup berpindah-pindah 5 tahun ini.

Pertama : Kesejukan

 

Meskipun konon sudah tak sedingin dulu karena urbanisasi dan polusi~ trust me~ udaranya yang sejuk dan segar cukup bisa bikin kamu menggigil di pagi hari jika tidur tanpa selimut. Itulah kenapa selain keindahanya, konon jaman Belanda lalu kota ini memang didesain untuk pensiun dan istirahat para Priyayi. Makanya Montainview, sekolah internasional terbesar di Jawa Tengahpun, juga didirikan disini~ sampai expatriate-expatriat dari luar kota rela menyewa hunian disekitar SI agar anaknya bisa sekolah disini. Itupula yang mendasari keputusan kami untuk membangun rumah di Salatiga meskipun berpindah-pindah karena nanti setelah pensiun tentu saja ingin kembali ke ‘desaku’ yang asri, menikmati hidup, merawat orang tua kami.

Kedua : Sumber Daya

sumurup

Ketika pertama kali menghadiri pernikahan di Kota Pekanbaru, domisili saya saat ini, saya cukup heran dari puluhan papan karangan bunga yang berjejer, sekalipun dari pejabat hanya dibuat dari bunga buatan. Ternyata bunga hidup sangat langka disini, bahkan mungkin nggak ada. Begitupun ketika kami tinggal di Kalimantan Barat jika cuaca buruk dan gelombang tinggi, hampir dipastikan sayuran mahal dan layu karena kebanyakan dikirim dari daerah lain. Bayangkan sebaliknya jika saya berjalan di pasar pagi Salatiga, segala macam sayuran dengan harga yang bikin saya mikir “ini ongkosnya buat dari petani ke pasar sama sayuran yang dibawa pedagang mahal mana” ~bungapun demikian, tinggal pesan ingin bunga apa florist bisa menyediakan, atau kalau ingin emmetik langsug tinggal pergi ke daerah Bandungan yang tidak terlalu jauh.

Ketiga : Kuliner

Seiring dengan mudahnya bahan makanan didapan tentu saja berbagai makanan khas salatiga ini terkenal enak dan murah dibandingkan dengan kota-kota lain. Kalau nggak percaya coba aja mampir lalu masuk ke restoran mana saja random, nggak akan mengecewakan dan nggak akan kaget melihat nota yang disodorkan. Menunya juga beragam dari tradisonal, chinese, western ada~ restonya juga lucu-lucu dengan konsep masing-masing . Sebut saja Ronde minuman penghangat tubuh yang terkenal dari jaman dahulu yaitu Ronde Jago , maupun yang mulai menjamur yaitu ronde susu. Sate, sate suruh yang tersohor, sampai ada cabangnya di Yogyakarta, Tumpang Koyor yang sangat berlemak lezat namun terkadang aneh bagi yang tidak terbiasa karena berbahan dasar tempe busuk. Mie ayam kridanggo, soto kemuning, Singkong keju D9, dan masih banyak lagi yang semakin dingat-ingat semakin bikin pengen pulang.

 

Keempat : kemajemukan

C360_2018-01-29-12-31-49-811

Masjid Raya Salatiga di sisi utara Lapangan Pancasila, lapangan pancasila selain digunakan untuk rekreasi warga juga dipakai bergantian untuk ibadah seperti Shalat Ied Berjamaah dan Misa natal

Salatiga itu miniaturnya Indonesia, segala suku, agama ada sepertinya dan saling menghormati satu sama lain. Makanya kemarin menurut survey kota Salatiga dinobatkan sebagai Kota Terdamai di Indonesia, karena seingat saya tidak pernah ada konflik horizontal (dan jangan sampai) meskipun baru ngetrend pergeseran ke “right-wing”.  Makanya orang Salatiga itu selalu dianggap mudah bergaul dan beradaptasi dimana-mana, karena sedari kecil kami sudah belajar hidup berdampingan dalam perbedaan. Mungkin didukung Kota nya yang kecil saling mengenal atau setidaknya ada relasi satu sama lain.

Kelima : Ketertinggalan

Di bagian mananya ketertinggalan itu bagus? Well, kami memang nggak punya bandara, stasiun kereta, mega mall maupun bioskop tapi bukan berarti hidup kami nggak bahagia. Kami bisa di hari sabtu berlari di lapangan pancasila, makan bubur ayam, beli lekker, siang main ke pemancingan, sore beli ronde dan masih bersyukur dengan keadaaan kami. Berada di segitiga emas Semarang, Solo, Yogyakarta kami bisa memilih mau ke bandara mana, mau nonton tinggal pilih ke kota mana, yang sekarang sudah terkoneksi dengan tol. Malah mungkin lebih cepat kami yang dari Salatiga untuk nonton di Transmart Semarang daripada yang tinggal di daerah semarang sendiri karena macet dan padatnya. And I like it that way, daripada melihat mega mall penuh gerai franchise yang company own, senang melihat geliat kuliner, kedai kopi, resto private-own yang bermunculan. Meskipun begitu potensi wisata Kota berpenduduk hanya sekitar 180.000-an jiwa ini juga tidak kalah dengan dibukanya banyak wisata baru, hotel dan resort yang “menjual” suasanya dan keasrian Kota ini.

 

Dulu saya sempat takut ketika jalan tol beroperasi maka Kota Salatiga akan mati. Tapi saya yakin dengan segala kelebihannya yang mungkin masih belum saya sebutkan diatas Salatiga akan mencari cara untuk memancarkan daya tariknya lebih lagi. Apalagi Salatiga mungkin satu-satunya kota yang namanya diambil untuk sebuah Restaurant di Belanda. Semoga suatu saat bisa kembali, tinggal dan ikut membangun kotaku ini dengan cara yang aku mampu. Meskipun saat ini yang bisa aku lalukan baru menulis, saya warga Salatiga dan saya Bangga.

 

Facebook Comments
Share on
Previous Post Next Post

You may also like

No Comments

Leave a Reply