Follow:
My opinion, Staycation Tips, Travel tips

Mencari Secercah Kebenaran dalam Sepotong Perjalanan

If you want to be smart read news paper, but if you want to be wise then go travel.

 

Salah satu kenapa saya suka bepergian adalah karena bagi saya  seeing is believing, hence to be fair, not seeing is not believing. Kita hidup di era dimana banyaknya prejudice, stereotyping, dan hoax menyebar lebih cepat daripada kecepatan edukasi sampai ke masyarakat. Sehingga,  kita nggak tahu lagi informasi yang mana yang benar ataupun salah ataupun nggak sepenuhnya benar dan salah.  Yang kita lihat di media massa baik belum tentu sebaik itu begitu pula yang kita anggap sangat buruk bisa jadi sebenarnya tak terlalu buruk.

Di sebuah instansi pemerintah, ketika saya sedang mengurus surat kehilangan misalnya, mata saya terbelalak ketika tahu para pegawainya ramai-ramai menonton video tentang ular kepala manusia di youtube yang katanya ada di sebuah hutan di Bangkok Thailand. Dari judulnya saja sudah bisa dipastikan itu hoax. Untuk sebuah pekerjaan yang saya rasa membutuhan kecerdasan intelektual saja masih percaya video palsu yang dibuat untuk meraih viewer macam itu, lantas bagaimana dengan masyarakat awam? Serius, saya prihatin. Padahal  ketika saya kesana 5 tahun lalu Bangkok itu sudah lebih maju dari Jakarta, mana ada hutan sih? Hutan beton, iya. Itulah kenapa salah satunya kenapa  orang harus bepergian dan keluar tempurungnya, untuk melihat dunia. Be a traveler not the tourist, jangan sampe kita bepergian hanya untuk memberi makan social media dengan foto di tempat-tempat hits tapi kita nggak belajar apapun tentang orang-orang dan tempat yang kita kunjungi.

Bangsa Amerika yang selalu digambarkan oleh Hollywood-nya selalu cantik & cakep, seksi, canggih, gaul akan lain ceritanya jika kita mencoba mengekspor daerah seperti Florida, atau daerah ruralnya. Den berapa persen sebenarnya orang yang above beauty standard seperti di majalah, padahal masyarakat negara itu sedang menghadapi masalah obesitas yang serius. Negara Perancis yang digambarkan kota eksotis dan penuh cinta dengan Menara Eiffel-nya, akan rusak seketika image itu kalau sudah mencium bau pesing jalanan disana, ataupun ganasnya aksi copet di kereta.

Travel is fatal to prejudice, bigotry, and narrow-mindedness, and many of our people need it sorely on these accounts. Broad, wholesome, charitable views of men and things cannot be acquired by vegetating in one little corner of the earth all one’s lifetime.” Mark Twain

Yang paling marak saat ini adalah xenophobia yang melanda di belahan dunia manapun. Wajar sih ketika manusia takut akan sesuatu yang tidak diketahionya. Namun ternayat ketakutan itu saat ini dimanfaatkan oleh pihak-pihak yang tidak suka dengan perdamaian dunia dengan menyebarkan teori konspirasi. Di Negara Jerman, timbul kewaspadaan terhadaap migrant-migran dari Syiria dan perasaan takut akan minoritas~karena mereka tidak berusaha mengenal Islam. Sedang di Indonesia saat ini ada ketakutan dengan negara China beserta etnisnya. Padahal bagi yang pernah traveling ke China apalagi China Selatan pasti sudah tahu bahwa mereka tidak anti agama tidak seperti yang digambarkan oleh orang-orang. Apalagi ketika saya ke Hong Kong, saya bisa melihat komunisme hanya tertinggal sebagai nama saja, ketika melihat arloji Omega seharga 1 Milyar laris manis tentu saja kita tahu bahwa kapitalisme adalah pemenangnya. Bangsa China juga di-stereotype-kan sebagai ras terburuk, bahkan di dunia tourism seringnya mereka dicap berisik, tidak mau antre, dan jorok. Padahal dimanapun di dunia orang-orang ‘cacat etika” seperti itu bakal selalu ada  bahkan di negeri kita tercinta. Cobalah tengok traveler seperti Trevor James yang mengeksplor keraggaman kuliner China, maupun Syifa Andriana hijab traveler yang saat ini memutuskan tinggal di China. Sungguh matikan televisi dan pergilah untuk menaklukan ketakutanmu sendiri.

 

Saya rasa kitapun bakal sedih jika misalnya negara atau orang-orang kita dicap teroris oleh orang yang hanya ‘mendengar’ padahal hampir semua turis yang sudah melihat Indonesia secara langsung bakal bilang kalau kita negara ter-ramah, aman, dan indah. Begitupun saya rasa sebaliknya. Janganlah kita ‘nggebyah uyah’ kepada ras, bangsa negara manapun. Jangan.

Makanya saya selalu senang membaca cerita traveler-traveler yang destinasi wisatanya cuku[ ‘anti-mainstream’ sebut saja Korea Utara yang selalu digambarkan punya pemimpin diktator, tapi dia bisa kembali dengan selamat. Ataupun postingan teman-teman ketika berkunjung di Iran yang banyak diembargo negara-negara di dunia, bahkan Palestina yang dilanda konflik. Melihat dunia dari mata orang-orang ini mungkin tak sepenuhnya bisa see in wider picture. Tapi paling enggak, mereka bukan berangkat tanpa kepentingan, popularitas, jurnalisme maupaun uang. Seperti bagi saya traveling itu semata-mata untuk mengenal bangsa dan golongan lain, kemudian merasa kecil, seperti perintah dalam kitab suci saya.

cats

Maka dari itu saya menyadari selain kesenangan, kawan baru, dan pengalaman manfaat traveling yang terpenting menurut saya adalah sebagai bentuk ikhtiar kita mencari kebenaran. Kita punya andil untuk memperbaiki people view of the world, di unit terkecil seperti keluarga terdekat misalnya dan terutama ke diri. Apakah yang kita lihat selalu benar? Enggak, Tapi paling tidak kita berusaha. Ketika apa yang kita lihatsaja belum tentu sebuah kebanaranan apalagi yang tidak kita sama sekali lihat sendiri. Think before sharing, and that’s may be the key to a better world. Maka seperti yang Imam Syafi’i pernah tulis.

“Aku melihat air menjadi rusak karena diam tertahan..
Jika mengalir menjadi jernih, jika tidak, akan keruh menggenang, “
……maka merantaulah, atau travelinglah kawan 🙂

 

Facebook Comments
Share on
Previous Post Next Post

You may also like

No Comments

Leave a Reply